Jumat, 29 Juni 2012
7 Amalan yang Pahalanya Mengalir Terus
Hadis tentang amal jariyah yang populer dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya" (HR. Muslim).
Selain dari ketiga jenis perbuatan di atas, ada lagi beberapa macam perbuatan yang tergolong dalam amal jariah.
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya diantara amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya wafat ialah ilmu yang disebarluaskannya, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan. sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang banyak, dan harta yang disedekahkannya” (HR. Ibnu Majah).
Di dalam hadis ini disebut tujuh macam amal yang tergolong amal jariah sebagai berikut.
1. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal, seperti diskusi, ceramah, dakwah, dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah menulis buku yang berguna dan mempublikasikannya.
2. Mendidik anak menjadi anak yang saleh. Anak yang saleh akan selalu berbuat kebaikan di dunia. Menurut keterangan hadis ini, kebaikan yang dipeibuat oleh anak saleh pahalanya sampai kepada orang tua yang mendidiknya yang telah wafat tanpa mengurangi nilai/pahala yang diterima oleh anak tadi.
3. Mewariskan mushaf (buku agama) kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya untuk kebaikan diri dan masyarakatnya.
4. Membangun masjid. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena Allah walau sekecil apa pun, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Orang yang membangun masjid tersebut akan menerima pahala seperti pahala orang yang beribadah di masjid itu.
5. Membangun rumah atau pondokan bagi orang-orang yang bepergian untuk kebaikan. Setiap orang yang memanfaatkannya, baik untuk istirahat sebentar maupun untuk bermalam dan kegunaan lain yang bukan untuk maksiat, akan mengalirkan pahala kepada orang yang membangunnya.
6. Mengalirkan air secara baik dan bersih ke tampat-tempat orang yang membutuhkannya atau menggali sumur di tempat yang sering dilalui atau didiami orang banyak. Setelah orang yang mengalirkan air itu wafat dan air itu tetap mengalir serta terpelihara dari kecemaran dan dimanfaatkan orang yang hidup maka ia mendapat pahala yang terus mengalir.
Semakin banyak orang yang memanfaatkannya semakin banyak ia menerima pahala di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa membangun sebuah sumur lalu diminum oleh jin atau burung yang kehausan, maka Allah akan memberinya pahala kelak di hari kiamat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah).
7. Menyedekahkan sebagian harta. Sedekah yang diberikan secara ikhlas akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda.
Sumber : Ensiklopedi Hukum Islam
(disadur dari Republika On Line)
Rabu, 25 April 2012
Inilah Sepuluh Alasan Mengapa Islam Mengharamkan Babi
Pertama, babi adalah container (tempat penampung) penyakit.
Kedua, daging babi empuk.
Ketiga, menurut Prof. A.V. Nalbandov (Penulis buku : Adap-tif Physiology on Mammals and Birds) menyebutkan bahwa kantung urine (vesica urinaria) babi sering bocor, sehingga urine babi merembes ke dalam daging. Akibatnya, daging babi tercemar kotoran yang mestinya dibuang bersama urine.
Keempat, Lemak punggung (back fat) tebal dan mudah rusak oleh proses ransiditas oksidatif (tengik), tidak layak dikonsumsi manusia.
Kelima, babi merupakan carrier virus/penyakit Flu Burung (Avian influenza) dan Flu Babi (Swine Influenza).
Ketujuh, Dr. Murad Hoffman (Doktor ahli & penulis dari Jerman) menulis bahwa Memakan babi yang terjangkiti cacing babi tidak hanya berbahaya, tapi juga menyebabkan peningkatan kolesterol tubuh dan memperlambat proses penguraian protein dalam tubuh.
Kedelapan, penelitian ilmiah di Cina dan Swedia menyebutkan bahwa daging babi merupakan penyebab utama kanker anus dan usus besar.
Kesembilan, Dr Muhammad Abdul Khair (penulis buku : Ijtihaadaat fi at Tafsir Al Qur’an al Kariim) menuliskan bahwa daging babi mengandung benih-benih cacing pita dan Trachenea lolipia. Cacing tersebut berpindah kepada manusia yang mengkonsumsi daging babi.
Kesepuluh, DNA babi mirip dengan manusia, sehingga sifat buruk babi dapat menular ke manusia. Beberapa sifat buruk babi seperti, Binatang paling rakus, kotor, dan jorok di kelasnya, Kemudian kerakusannya tidak tertandingi hewan lain, serta suka memakan bangkai dan kotorannya sendiri dan Kotoran manusia pun dimakannya. Sangat suka berada di tempat yang basah dan kotor. Untuk memuaskan sifat rakusnya, bila tidak ada lagi yang dimakan, ia muntahkan isi perutnya, lalu dimakan kembali. Lebih lanjut Kadang ia mengencingi pakannya terlebih dahulu sebelum dimakan.
Selasa, 14 Februari 2012
Pantai Ngebum Kaliwungu wisata 'murah meriah'
“Murah meriah” itulah kesan bila kita berkunjung di ngebum, terutama bagi pengunjung yang berkantong tipis, kiranya cukup dapat menghibur bagi keluarga. Tiket masuk hanya Rp. 2000 perorang. Suasana akan bertambah indah bila kita berkunjung pada pagi hari setelah subuh sambil menunggu terbitnya matahari dan melihat perahu-perahu nelayan dan kapal-kapal dari PT KLI.
Sebetulnya di kaliwungu ada wisata religi yaitu ziarah di makam-makam para ulama penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Kendal khususnya di kec. Kaliwungu. Dan tidak kalah menariknya oleh-oleh yang bisa buat kenang-kenangan makanan ringan khas kaliwungu ‘krupuk usek’ ;( krupuk goreng wedi).
Bila kita berkunjung di Kabupaten Kendal selain Kaliwungu ada alternatif obyek yang dapat dikunjungi, diantaranya air terjun curug sewu, kebun buah Plantera di Kec. Patean, pemandian air panas nglimut Gonoharjo, kampoeng Jowo Sekatul di Kec. Limbangan, Wisata air Nusantara di Kec. Boja, Goa Kiskendo di Kec. Singorojo, dan di kawasan pantura ada Pantai Si kucing dan Pantai Cahaya dengan atraksi lumba-lumba dan satwa langka di kec. Weleri . Dan sekarang selamat rekreasi bersama keluarga, Monggo pilih sing pundhi !
Senin, 06 Februari 2012
Tradisi Weh-wehan: Sambut Maulid Nabi Muhammad saw
Ada hal yang menarik setiap bulan Rabiul Awal tiba, khususnya di kota santri Kaliwungu Kendal. Pada saat mauludan, begitu orang menyebutnya, ada kemeriaahan di kampung-kampung menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw, disamping pembacaan “barzanji” yang dimulai sejak tanggal 1 sampai tanggal 12 Rabiul Awal ada tradisi turun temurun di kota kecil itu, yaitu tradisi saling memberi dan menerima makanan kecil atau jajan antar tetangga yang dikenal dengan istilah “Weh-wehan” . Makanan khas pun sering muncul hanya pada saat acara tersebut; seperti sumpil (sejenis lontong namun bungkusnya dari daun bambu yang dibungkus segi tiga) disajikan dengan sambal kelapa muda, ketan abang ijo, ndok mimi (namun sekarang langka), dan sebagainya. Namun sekarang sejalan dengan perkembangan zaman masyarakat mencari praktisnya dengan mengeluarkan makanan ringan yang siap saji dari toko-toko modern.
Kemeriahan di Kaliwungu (tempat kecil penulis), dulu setiap bulan mulud (baca; Rabiul Awal) setiap rumahpun menghias terasnya dengan lampu-lampu hias tradisional dari bahan kertas warna dan lampu minyak tanah, dengan aneka bentuk yang lebih akrab disebut “Teng-tengan”. Hal ini pun sekarang semakin hilang bahkan punah, diganti dengan lampu warna-warni elektronik.
Masjid al Muttaqin biasanya menjadi sentral kegiatan yaitu dengan digelarnya festival al Muttaqin untuk menyambut kemeriahan peringatan Maulid Nabi. Lomba-lomba diadakan untuk melestarikan budaya lokal tersebut seperti; lomba rebana, teng-tengan, weh-wehan, baca al Qur’an, kaligrafi dan lain-lain.
Bila bulan mulud serasa ada kerinduan untuk mengenang masa kecil di kota santri yang dulu masih asli dengan nuansa ngaji yang kental, dan orang-orang sarungan, sungguh ‘ngangeni’. Bagaimana dulu senangnya bila sore hari memakai baju baru dan segera mengantar weh-wehan ke para tetangga dan saudara dan malam harinya mengikuti ‘barzanji” di musholla berdinding kayu.
Aduh sekarang tergerus dengan industrialisasi yang masuk ke kota santri sejak era 80-an, merubah sedikit demi sedikit nuansa kota santri menjadi sedikit berubah. Semoga terkenang!
Selasa, 30 Agustus 2011
Bagaimana kita berlebaran
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan puasa dan hendaknya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (Al Baqarah: 185)
Idul Fitri, yang dinegeri kita dikenal dengan Lebaran, berarti kembalinya fitrah kemanusiaan kepada kemanusiaan yang sebenarnya. Seperti kita maklumi, Idul Fitri didahului dengan bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan ampunan (maghfiroh) dan terkabulnya do’a-do’a(istijabah); bulan semua noda-noda hewaniyah dan syaithaniyah dilepaskan dan disucikan oleh Allah agar kembali lagi kepada fitrah kemanusiaan yang semula.
Pada hari Idul Fitri kita disunatkan untuk menyampaikan selamat kepada keluarga, kerabat, dan handai taulan dengan mengucapkan taqabalallahu minna wa minka, semoga Allah menerima segala amal perbuatan kami dan anda. Ucapan ini telah menjadi sunnah para sahabat, seperti diriwayatkan oleh Jubair bin Naqir. Katanya, “Sahabat-sahabat Rasulullah bila saling berjumpa di hari lebaran saling mengucapkan ‘taqabalallahu minna wa minka’.
Yang tidak kalah pentingnya saat Idul Fitri adalah kita mengedepankan silaturahim diantara kita, baik secara langsung maupun tidak langsung mungkin karena keterbatasan tempat dan waktu sehingga tidak dapat saling mengunjungi melalui teknologipun adalah satu solusi,seperti telepon, SMS, face book dll.
Mudik adalah salah satu dari gairah untuk silaturahim di kampung halaman, meskipun perlu pula dipertimbangkan pula faktor-faktor yang kadang menyertai kebiasan mudik di negeri ini, hendaknya kita tidak terjebak pada pola hidup boros, memaksakan diri, pamer (riya) kesuksesan di kampung halaman, dan hal-hal lain yang tidak prinsip dalam rangka memeriahkan Idul Fitri.
Untuk mengekspresikan kegembiraan kita pada hari Lebaran, Rasulullah menyebut; Hari Idul Fitri adalah hari rayanya keluarga Islam. Karena itu dianjurkan oleh beliau agar seluruh anggota keluarga, dari laki-laki, perempuan hingga anak-anak kecil yang belum cukup umur untuk pergi shalat Ied.
Dalam shalat itu kita juga dianjurkan untuk memakai pakaian yang bagus (bukan harus yang mahal). Pada hari itu juga kita dianjurkan oleh Allah untuk senantiasa memperbanyak takbir, mengagungkan nama Allah sebagai tanda syukur kepada-Nya. Akhirnya selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1432 H, semoga Allah menerima segala amal kita.Wallahu a’lam.
Selasa, 08 Juni 2010
“ CHARACTER BUILDING” HARUS DARI MANA?
“Assalamu’alaikum Pak!”, “Selamat pagi Bu !” satu persatu anak antri untuk sekedar bersalaman. Sederhana memang, tapi itu sering kita abaikan selaku seorang guru (baca:pendidik). Itu adalah salah satu dari sekian banyak contoh hal-hal yang ringan namun mempunyai arti yang mendalam dalam pendidikan moral anak. Lalu, pesan apa yang dapat kita maknai? Mari kita tengok bersama-sama.
Sekolah adalah salah satu diantara sekian lembaga yang bertujuan untuk mencetak generasi yang handal dan mumpuni dalam segala bidang serta berkepribadian luhur. Ada satu tanggung jawab besar dipundak sekolah yang harus selalu dibangun dan dikembangkan, yaitu karakter para peserta didiknya, dengan harapan mereka setelah lepas dari sekolah mempunyai bekal dalam hidup bermasyarakat dengan tidak hanya pandai dalam ilmu-ilmu pengetahuan saja, melainkan juga harus memiliki kepribadian yang menjunjung tinggi akhlak mulia.
Langkah ini memang harus segera diambil untuk dapat mengimbangi gempuran-gempuran teknologi informasi yang sedikit banyak telah merubah gaya hidup yang cenderung pragmatis, hedonisme, egoisme, dan asosial.
Mungkin dari ilustrasi di atas, anak akan mempunyai rasa hormat kepada orang yang lebih tua, guru dan siapa saja yang ia temui. Pembiasaan-pembiasaan perilaku yang baik, taat ibadah, sopan santun, cinta kebersihan, semangat kerja sama atau gotong royong memang perlu dioptimalkan.
Kepedulian terhadap nilai-nilai tersebut agaknya mulai pudar, dalam konteks pendidikan di sekolah agaknya semakin terpinggirkan dengan semakin jauhnya fungsi sekolah yang asalnya sebagai saran untuk mendidik, sekarang lambat laun akan bergeser sebagai lembaga bimbingan belajar yang hanya mengantar siswa-siswanya untuk “hanya sekedar” memperoleh nilai kuantitatif.
Nah, sekarang dari mana kita harus mulai berbenah, jawabnya adalah dari diri kita (pendidik dan tenaga pendidikan) selaku orang yang jadi public figure di sekolah selain membekali anak-anak dengan segudang ilmu pengetahuan, juga perlu dan penting untuk pula ditanamkan karakter dengan sentuhan norma-norma agama dan budaya luhur. Peran pendidik dan tenaga kependidikan tidak diragukan lagi bagi keberhasilan pembangunan karakter anak, yaitu melalui contoh atau teladan langsung serta keterlibatan secara langsung mutlak adanya, tidak hanya sekedar menyuruh tapi juga melakukan. Contoh konkrit adalah guru harus di depan misalnya dalam ibadah, kebersihan, rapi dalam pakaian, lembut tutur kata, tepat waktu, dan sebagainya, Insya Allah akan lebih berhasil. (Kang Wahid)
